Surat Emas Raja-Raja Nusantara

26 September 2017, 09:36:24

Selama lebih dari empat ratus tahun, surat yang ditulis dalam bahasa Melayu dengan huruf Jawi (Huruf Arab-Persia) menjadi sarana komunikasi antara Raja-raja di Kepulauan di Indonesia dengan para Raja, Pembesar dan Pedagang dari Manca Negara. Yang paling mengesankan dari "Surat Emas" ini adalah unsur keseniannya. Surat-surat tersebut ditulis, dihiasi dan disungging dengan ketrampilan yang tinggi dan sangat teliti, demi mencerminkan martabat dan derajat sang pengirim. Sehingga Surat Emas dapat dianggap sebagai jenis Manuskrip Melayu yang paling halus dan indah.

 

 

Salah satu contoh surat yang paling tua dan terindah ditulis oleh Sultan Iskandar Muda dari Aceh pada tahun 1615, yang ditujukan kepada Raja James I. Surat ini ditulis dengan bahasa yang indah dimana tiga perempat bagian surat ini menggambarkan kebesaran, kekayaan dan kemegahan wilayah Sultan Aceh. Pada bagian pokok surat, Sultan dengan sopan menolak permohonan Inggris untuk berdiam dan berdagang di Tiku dan Pariaman karena negeri itu negeri dusun, dan sebaliknya Sultan mengundang Inggris untuk berniaga hanya di Aceh.

Tidak hanya tulisan dan bahasanya yang indah namun ukuran surat tersebut yang hampir mencapai 1 meter. Pola hiasan memperlihatkan adanya pengaruh Otoman-Turki (dalam motif Bunga dan Madat) dan Safavi-Iran (dalam Unwan berbentuk kubah berwarna biru), namun dengan penafsiran yang khas pribumi. Kalimat-kalimat ditulis dengan halus dan rapi di atas kertas yang telah ditaburi butir-butir emas.

Surat tertua lainnya adalah surat yang ditujukan kepada Thomas Stamford Raffles yang menjabat sebagai Letnan Gubernur di Jawa (Thn. 1811 - 1816) dan di Bengkulu (Thn. 1818-1824).

Dalam buku ini ditampilkan sekitar 91 buah surat dan naskah dengan berbagai bahasa seperti Melayu, Jawa, Madura, Bali, Lombok, Sulawesi Selatan dan Batak. Pada bagian lampiran terdapat pula alih aksara dan terjemahan beberapa surat dalam bahasa Indonesia.

Salah satu manfaat yang dapat dipetik dari mengetahui bahkan mempelajari surat-surat emas ini dan naskah kuno pada umumnya adalah untuk memetik kearifan dari perbandingan antara apa yang telah terjadi di masa lampau dan kenyataan yang hidup dan sedang berkembang pada masa kini. Isi dari surat Raja-raja tersebut juga penting sebagai sumber primer untuk penelitian sejarah Indonesia, baik dari segi diplomatik dan politik maupun ekonomi. Dan dapat dimanfaatkan pula untuk pengkajian perkembangan bahasa dan ejaan Melayu.
 

Judul Buku : Surat Emas : Budaya Tulis di Indonesia

Penulis : Annabel The Gallop

Penerbit : Lontar Indonesia

Tebal : 154 halaman

Editorial Lainnya